Waktu berkunjung ke rumah sodara di Malang, ada tetangganya sepasang suami-istri sudah berumur yang sering sekali membagi makanan yang dia punya ke tetangga yang lain termasuk sodara saya. Ada yang menarik tentang sang suami, tangannya tinggal yang kanan saja, yang kiri diamputasi karena sebuah kecelakaan. Saya salut terhadap orang ini yang membagi cerita tentang kecelakaannya, dialami sekitar beberapa tahun yang lalu, tertimpa palang pintu kereta api yang jatuh tiba-tiba padahal tidak ada tanda sirine kereta akan lewat.
Saya kaget waktu beliau bilang bahwa kejadian itu adalah hukuman ALLAH buat beliau, karena sebelumnya beliau adalah orang yang pelit, kurang sudi berbagi rejekinya dengan tetangga, bahkan ke saudara sekalipun, juga karena tidak pernah bersyukur atas semua rejeki yang didapatnya.
Beliau menganggap peristiwa itu adalah ‘tamparan’ dari ALLAH, sebuah pertanda bahwa dia harus mengubah tingkah lakunya selama ini. Beliau juga sangat bersyukur karena ‘tamparan’ ALLAH tadi masih pelan karena dia hanya kehilangan 1 tangannya, juga bersyukur karena masih bisa menebus semua kesalahannya dengan berbuat baik menggunakan tangan sisanya, tangan kebaikan, yaitu tangan kanan. SUBHANALLAH.
ALLAH pasti akan memberikan ‘tamparan’ kepada hambanya yang melalaikan kewajibannya, yang melakukan dosa, dan melupakan-Nya. Sebagai manusia kita tidaklah pantas kalau kita hanya memikirkan duniawi dan melupakan kewajiban kita kepada-Nya.
Berapa banyak dosa lagi yang mau kita perbuat sebelum kita berubah?
Berapa lama lagi kita berbuat dosa untuk kita berubah?
Apakah kita harus mendapat ‘tamparan’ dari ALLAH agar kita berubah? Atau bahkan kita harus mendapat ‘pukulan’ yang lebih keras lagi?
Sejujurnya saya juga pernah mendapat ‘tamparan’ dari ALLAH, sewaktu saya punya sepeda motor untuk pertama kalinya, saya kurang bersyukur pada ALLAH, saya melalaikan kewajiban saya, dan ada rasa sombong dalam hati saya, akibatnya adalah 3 kecelakaan yang saya terima dan bekas lukanya ga bisa ilang (seperti keloid). Saya selalu bersyukur karena saya masih diberi kesempatan hidup, bahkan tidak cacat sedikit pun. Luka ini selalu mengingatkan saya untuk selalu bersyukur dan ingat pada-Nya.



No Comments Yet